DUARR.!!!
Suara ledakan yang disusul oleh bunyi berderak kencang itu menandakan bahwa Gerbang Utama kota telah roboh, terdobrak oleh ram machine (alat pembobol gerbang). Hampir bersamaan dengan itu, pasukan dengan seragam coklat tua segera meyerang masuk ke dalam kota.
“Tembak!!” terdengar lengkingan perintah dari seorang perempuan. Segera setelahnya, muncul ribuan anak panah meluncur menghadang laju pasukan penyerang. Pasukan yang tadinya menyerbu masuk ke dalam kota itupun buyar, berlarian menyelamatkan diri, ada juga yang berusaha menangkis anak panah itu dan banyak juga yang tewas.
Melihat pasukannya bertumbangan dan kalang kabut, pimpinan pasukan yang sejak tadi bersiap diatas kudanya langsung mencabut benda yang terselip di pinggangnya. Benda seperti tongkat berukuran sekitar 20cm itu langsung memancarkan api yang membentuk mata pedang.
“Flea, siapkan kavaleri ketapel. Langsung tembak.!” Perintahnya pada perempuan yang ada disampingnya seraya memacu kudanya masuk ke dalam kota. Flea mengangguk dan langsung berbalik arah.
Sementara itu diatas atap istana yang berada di tengah-tengah kota, ada seorang perempuan yang melayang. Matanya terpejam, di telapak kakinya ada sinar yang membentuk formasi sihir. Dia terlihat bercakap-cakap dengan seseorang padahal tak ada seorangpun disekitarnya kecuali seorang laki-laki yang bersandar di dinding menara.
Dia membuka matanya dan melihat jauh kedepan.
“Ketapel api” katanya singkat. Seketika itu pula pasukan pemanah yang bersembunyi diantara bangunan dan rumah-rumah langsung berpindah tempat.
“Terima kasih, Yang Mulia.” Kata pemimpin pasukan pemanah. Ketapel-ketapel api itu mulai menembakkan pelurunya. Banyak bangunan yang langsung hancur berantakan begitu terkena benda itu. Tapi korban dari pihakpasukan kota hanya sedikit karena sebagian besar pasukan sudah berpindah dari target tembakan. Rupanya, wanita yang berada di atas atap istana itulah yang memberikan perintah kepada semua pasukan yang berperang mempertahankan kota.
Pimpinan pasukan penyerang itu maju menerobos penjagaan ketat dengan mudah. Entah kenapa, tak ada satu orang pun yang mampu beradu pedang dengannya. Setiap dia mendekat, orang yang menghadapinya seakan menjadi tak berdaya dan dengan mudah ditebas.
“Flame Saber. Dia akhirnya muncul juga,” kata perempuan yang melayang itu. Dia turun. Laki-laki yang tadinya bersandar itupun mendekat.
“Ini saatnya aku maju. Dia bukan lawan yang seimbang untuk prajurit kita.” Katanya sambil membetulkan posisi sarung tangannya. Dia lalu membalikkan posisi wanita itu menjadi berhadapan dengannya.
“Tapi dia…” Laki-laki itu menutup mulut sang wanita dengan telunjuknya.
“Aku tahu Arzite.”potongnya, seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh wanita itu. “Tapi bagaimanapun juga dia bukan Reka yang dulu kita kenal. Dan kelangsungan Negara kita jauh lebih penting dari ini.” Sambungnya sambil memandang mata perempuan itu dalam-dalam. Arzite menarik nafas panjang lalu menghelanya.
“Aku mengerti, Zelda. Tak salah aku memilihmu sebagai suamiku dan juga pemimpin Negara ini.”
Zelda mengangguk. Setelah mencium kening istrinya, dia langsung melompat turun dan melesat ke arah Reka yang sudah mulai membantai pasukannya. Arzite kembali melayang dan melanjutkan tugasnya.
- Dua Hari kemudian
Seluruh kota sunyi setelah penyerangan itu. Tak ada aktivitas dari penghuninya. Dibeberapa sudut kota masih terlihat puing-puing reruntuhan bangunan yang masih tersisa. Beberapa diantaranya masih mengepulkan asap. Beberapa lainnya ada yang telah diperbaiki, terutama pada sarana umum. Namun, suasana kota sunyi, tak ada seorangpun.
Di kompleks istana suasananya berbeda. Disana banyak orang yang berkumpul, memadati hampir seluruh area istana, dan makin padat di bagian timur istana. Tempat itu adalah kompleks pemakaman. Ditengah-tengah kerumunan itu ada Zelda. Dia bersama kedua anaknya yang masih kecil, Zeta dan Zoav yang menangis di pelukan kakeknya. Zelda memandang ke arah sesosok wanita yang berada dalam peti mati. Pandangannya kosong. Masih teringat jelas di depan matanya, kejadian malam itu.
Saat itu, stamina Zelda telah mencapai batasnya. Dengan terengah-engah dia berusaha menahan serangan dari Reka. Namun, semakin banyak dia melakukan kontak dengan Flame Saber milik Reka, staminanya semakin menurun karena efek radiasi dari pedang itu.
Serangan Reka yang berikutnya hampir tidak bisa dihindari Zelda jika saat itu Arzite tidak datang dan melemparkan Reka dengan gelombang sihir.
“Zelda, kamu tidak apa-apa khan?” kata Arzite sambil berbalik menghadap ke Zelda.
JLEBB.!!
Belum sempat Zelda menjawab pertanyaan itu, dada Arzite telah tertembus Flame Saber milik Reka. Darah seketika memercik ke wajah Zelda. Rupanya, saat Reka terlempar, dia melemparkan Flame Saber ke arah Arzite dan sayangnya, baik Arzite maupun Zelda tidak mengetahui hal itu.
“ARZITE.!!!” Teriak Zelda. Dia segera menangkap tubuh istrinya itu.
“Maaf Zelda, seperti biasa. Aku ceroboh” kata Arzite terbata-bata.
“Jangan bicara lagi, aku akan…”
“Tidak usah Sayang, percuma” potong Arzite sambil tersenyum. Dia terbatuk dan muntah darah.
“Maaf Sayang, kamu pasti akan kesepian. Aku titip anak-anak ya…” sambungnya. Zelda berusaha tersenyum mengikuti Arzite, namun air matanya keluar tanpa dia mampu menahannya.
Zelda berusaha mencabut Flame Saber Reka yang menancap di punggung istrinya. Dia menjauhkan benda itu dari mereka berdua karena benda itu akan semakin melemahkan kondisi mereka jika tetap berada didekatnya.
Reka yang telah berhasil menguasai tubuhnya segera melesat kearah Zelda yang masih memangku istrinya. Zelda yang masih belum bisa menerima kejadian barusan tidak mengetahui bahwa lawannya telah bangkit kembali.
“Sayang, dia datang.”kata Arzite terputus-putus. Zelda sedikit terperanjat. Lalu dia menatap kedepan, pandangannya berubah.
“Kurasa, ini saatnya kamu menggunakannya”
Zelda mengangguk
“Akan kuselesaikan ini dengan cepat, bertahanlah.”
Zelda berdiri. Dia menatap Reka dengan penuh kebencian dan kemarahan. Dia mengepalkan tangan kanannya erat-erat. Tanda lingkaran dengan lambang elemen api di bagian tengah pada sarung tangannya menyala.
Saat sudah dekat dengan Zelda, Reka melompat dan memukul kearah Zelda. Zelda tak bereaksi, saat Reka hampir mengenainya Zelda menggeser tubuhnya sedikit ke samping dan…
“dragon roar”
Tubuh Reka terlempar seketika. Sekilas, terlihat seperti tubuh Reka dihantam oleh bayangan naga api. Tapi di sempat menyambar Flame Sabernya yang tergeletak di tanah saat dia terlempar.
Zelda melakukan dash dan mengejarnya, dia mengeluarkan pedang yang tersarung di pinggangnya.
“WindCalibur, aku mengandalkanmu. Flash Strike” tubuh Zelda menghilang dan tiba” muncul di belakang Reka yang barusan mendarat.
TRANG.!!
WindCalibur dan Flame Saber beradu. Zelda melepaskan pegangan pada pedangnya dan sekali lagi melakukan dragon roar yaitu memukul cepat dengan menggunakan tangan kanannya setelah mengumpulkan energi selama beberapa saat.
“Unit terdekat, segera cari bantuan medis di bagian timur. Dekat rumah blacksmith, Putri Arzite terluka parah”. Perintah Zelda melalui earphone.
Zelda langsung melesat menyusul Reka. Dengan Flash Step Zelda dengan cepat berada di belakang Reka dan menendangnya. Reka behasil menahannya dan bertahan agar dirinya tidak terlempar. Tapi kaki Zelda yang satunya lagi maju menendangnya dan terkena tangan kanannya. Zelda memutar badannya dan menebaskan WindCalibur. Reka menghindar dengan meliukkan badannya kebelakang, sekaligus juga menendang pergelangan tangan Zelda, WindCaliburnya terlempar dan Reka berhasil menangkapnya. Sebelum sempat Zelda bereaksi, ujung WindCaliburnya telah menempel di lehernya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar