Zelda langsung melesat menyusul Reka. Dengan Flash Step Zelda dengan cepat berada di belakang Reka dan menendangnya. Reka behasil menahannya dan bertahan agar dirinya tidak terlempar. Tapi kaki Zelda yang satunya lagi maju menendangnya dan terkena tangan kanannya. Zelda memutar badannya dan menebaskan WindCalibur. Reka menghindar dengan meliukkan badannya kebelakang, sekaligus juga menendang pergelangan tangan Zelda, WindCaliburnya terlempar dan Reka berhasil menangkapnya. Sebelum sempat Zelda bereaksi, ujung WindCaliburnya telah menempel di lehernya sendiri.
“Bergeraklah, dan lehermu akan terpotong” kata Reka dingin.
Zelda terdiam.
“Coba saja”, Reka menebas leher Zelda, tapi Zelda tiba-tiba menghilang. Belum sempat hilang rasa kagetnya, Reka merasakan hawa panas di punggungnya, dan saat dia membalikkan badannya…
BEGH.!
Dadanya terpukul oleh teknik Dragon Roar Zelda dengan telak tanpa sempat menghindar lagi. Reka lagi-lagi terlempar, tapi kali ini dia bangkit dengan tertatih, muntah darah dan kembali terjatuh. Beberapa pasukan Rockport yang berada di dekat situ langsung merangsek menyerang Zelda, tapi dalam waktu singkat langsung terkapar semua.
Tanpa buang waktu lagi, Zelda men-charge energinya dan menembakkan api besar dari tangan kanannya. Api itu meluncur kearah Reka yang masih belum beranjak dari tempatnya terjatuh. Di saat yang kritis itu, ada seseorang yang menyambar tubuh Reka sehingga bola api besar tersebut tidak menganai badannya. Namun, efek panas dari bola api tersebut masih sempat membakar hampir separuh wajahnya. Bola api besar yang tidak mengenai Reka itupun meluncur deras dan menghancurkan apapun yang ada di depannya sampai benda itu mengecil dan padam. Kejadian tak terduga itupun akhirnya berujung pada penarikan pasukan penyerang karena pimpinan mereka yang terluka cukup parah dan juga serangan dari pasukan kota yang makin meningkat.
Zelda Langsung melesat menuju tempat Arzite yang ternyata telah dibawa masuk kedalam kastil untuk diobati. Namun sesampainya di depan rumah sakit, Zelda dicegat oleh dokter Zhu.
“Tuan Zelda”, panggilnya.
Zelda menoleh, pandangan Zelda pun langsung berubah ketika dilihatnya wajah dokter Zhu yang terlihat sedih, seakan-akan tahu kata-kata apa yang akan diucapkan oleh dokter Zhu.
“Putri Arzite.....”
“Jangan bilang kalau dia..” kata Zelda terputus,
“Meninggal, tuan.” sambung dokter Zhu. Suasana senyap sejenak, lalu Zelda langsung berlari kencang menuju kamar tempat Arzite dirawat. Dia tidak bisa menggunakan flash stepnya karena energi dari Arzite sudah tidak bisa dia rasakan lagi. Dengan terburu-buru dia masuk ke dalam ruangan itu dan dilihatnya Arzite terbaring dengan selimut tertutup sampai kepalanya. Dengan wajah yang shock, Zelda mendekati tubuh istrinya itu perlahan.
“Arzite......”katanya lirih. “Kamu bercanda khan sayang..?? Katakan kalau kamu cuman mengodaku..???” Tapi tubuh Arzite yang telah menjadi dingin itu sama sekali tak bergerak. Dengan air mata yang menetes perlahan, Zelda akhirnya mengangkat tubuh istrinya itu keluar kamar dan membawanya masuk ke dalam istana. Keberhasilan tentara Wind City menghalau penyerangnya hari itu terpakasa dibayar mahal dengan kematian Arzite.
Zelda tersadar dari kenangannya, dia mengucapkan salam terakhir kepada istrinya itu sebelum dikuburkan. Pandangannya yang nanar melihat peti mati itu ditimbuni tanah menandakan bahwa dukanya sangat dalam. Dua putranya pun menghampirinya, mereka masih sesenggukan. Zelda memeluknya.
- Seminggu kemudian
Istana pagi itu kembali ramai oleh para penduduk kota yang memadati gerbang istana. Sekitar setengah jam yang lalu, Zelda selaku Raja dari Windy Wing telah mengumumkan pengunduran dirinya sebagai raja karena dia bukanlah pemegang tahta yang sebenarnya dari Windy Wing.
Gerbang kastil dibuka, rombongan pengawal istana pun keluar dari kompleks istana dan kemudian diikuti oleh sebuah kereta kuda dan disusul oleh rombongan pengawal lagi. Terlihat Zoav melambaikan tangan kepada Zeta, kakaknya yang berdiri di depan gerbang masuk istana. Tak jauh dari gerbang pembatas kota dan istana, rombongan itu berhenti mendadak karena ada seorang anak perempuan yang menerobos kerumunan orang di pinggir jalan dan mencegatnya.
Seorang pengawal turun dari kudanya dan menghampiri anak kecil itu.
“Minggirlah nak, kami harus segera mengantar Yang Mulia Zelda ke kota Mildar sebelum sore.” Kata pengawal itu.
“Aku ingin berbicara dengan Yang Mulia.” Jawab anak kecil itu dengan tegas.
“Yang Mulia tidak punya waktu untuk itu, adik kecil”
“Tapi aku harus berbicara dengannya.” Kata anak itu masih ngotot.
Zelda yang melihat kejadian itu, turun dari keretanya. Dia berjalan menuju ke anak itu. Diamatinya bocah yang sekarang berada di depannya. Usianya mungkin sekitar 8 tahun, sedikit lebih besar dari Zeta, anak pertamanya yang ditinggalkannya di istana. Bajunya lusuh dan acak-acakan.
“Adik kecil, siapa namamu?” tanyanya.
“Andrea. Andrea Vincenti, Yang Mulia.”
“Nah, Andrea. Apa yang mau kamu katakan padaku?”
Andrea diam sejenak. Dia memandang dalam-dalam wajah mantan raja Windy Wing itu.
“Anda, pengecut.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar